Selasa, 02 Mei 2017

HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN OLEH IBU SAAT HAMIL PADA SUKU DAYAK KALIMANTAN TIMUR

Pantang mengikat simpul apapun Termasuk mengikat tali sepatu, menjahit ataupun tali menali lainnya, karena dianggap akan mempersulit proses persalinan kelak.

Pantang mengenakan bahan yang mengikat leher Dipercaya apabila calon bapak atau ibu mengenakan bahan, misalnya kain,handuk atau tas yang melilit leher, anak yang keluar nanti juga lehernya akan terlilit tali pusar. Mendingan sih kalau terlilit tali pusar, masih bisa diusahakan lahir. Kalau dari lahir sudah terlilit utang kan berat Bapak/Ibu 

Pantang keluar pada waktu senja Senja sampai malam hari merupakan saat dimana ilmu jahat atau semacam jejadian bernama ‘kuyang’ berwujud kepala terbang muncul dimana ibu hamil sering menjadi targetnya. Intinya jangan sering berkeliaran senja maupun malam kalau tidak benar-benar perlu dan perkuat ibadah karena Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu yang jahat menimpa umatny apabila kita berserah hanya kepadaNya.

 Pantang menyebutkan usia kehamilan Kembali mengusung alasan yang mistis, wanita dayak dilarang menyebutkan usia kehamilannya pada orang asing. Alasannya adalah untuk menghindari kelahiran yang ‘dikunci’. Dikunci disini istilahnya adalah dibuat supaya tidak kunjung melahirkan, alasannya mungkin karena dendam dimasa lalu sehingga usia kehamilan merupakan hal yang tidak boleh disebutkan sembarangan. Tidak jarang orang-orang Dayak akan menjawa,”baru-baru saja” untuk menyebutkan kehamilan muda. Atau menyebutkan,”lagi nunggu waktunya”untuk menjawab usia kehamilan yang sudah tua.

Pantang  membunuh Ini sebenarnya pantangan bagi semua orang, hamil maupun tidak hehehe.Tapi untuk lebih spesifik pantangan ini dikhususkan dalam hal membunuh binatang apapun. Mungkin ini pantangan yang sama bagi semua ibu hamil can calon bapak di Indonesia. Namun apabila harus, calon orangtua hendaknya membatin dalam hati sambil mengajak calon bayi untuk ikut serta misalnya membatin “ayo nak kita kerjakan ini” sebelum membunuh binatang yang terpaksa harus dibunuh.

Pantang mengasah pisau tanpa air Mengasah pisau tanpa air dianggap akan berakibat ‘manak teah’ ini adalah suatu kondisi dimana proses kelahiran menjadi sulit karena teah atau kering. Tidak ada air ataupun darah dan sangat menyakitkan.Ini seram kan ya, secara proses melahirkan sendiri merupakan proses hidup dan mati. Saya belum menjumpai ini terjadi pada sodara atau kerabat namun orangtua jaman dulu sangat menekankan pantangan yang satu ini.

Pantang menjelek-jelekan orang lain Tentu saja ini sebenarnya juga merupakan hal yang harusnya kita lakukan baik sedang hamil maupun tidak. Namun ada baiknya ketika hamil kita menjaga mulut kita lebih hati-hati lagi supaya tidak menyakiti orang lain. Apalagi di tanah Dayak yang masih mengenal sistem jipen atau sanksi bagi permasalahan yang menyangkut orang lain. Beban moral juga menjadi penekanan disni. Calon orangtua yang mnjelek-jelekkan orang lain dipercaya akan menyebabkan sang bayi menjadi mirip dengan orang yang dijelek-jelekkan oleh orangtuanya.
Pantang mandi terlalu sore/malam Ini dilarang karena menurut orang orang tua ini bisa mengakibatkan air di ketuban menjadi banyak. Mungkin masih termasuk mitos karena penyebab air ketuban tentunya tidak karena sering mandi namun karena ini merupakan salah satu pantangan yang sering saya dengar sehingga saya tuliskan juga.

Pantang makan makanan bergetah Makanan bergetah misalnya nangka, jantung pisang karena akan mengurangi produksi ASI. Ini mitos juga sih. Apalagi saya yang pada dasarnya tukang makan, sehingga beberapa makanan yang dipantang sukses masuk ke perut pada saat hamil. Namun pantangan dari orangtua ini hendaknya tidak dilawan namun kita juga tidak memaksakan diri. Saya sering berkonsultasi pada teman yang kebetulan berprofesi sebagai bidan mengenai makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan, biar aman.


Pantang bermalas-malasan Oke, poin ini sebenarnya juga berlaku pada saat tidak hamil, namun orang Dayak percaya bahwa keluarga yang menanti kelahiran buah hati tidak boleh sering bermalas-malasan dan hanya tidur-tiduran, karena berpengaruh pada janin. Selain memerlambat proses kelahiran, kegiatan bermalas-malasan ini dianggap kelak akan menghasilkan anak yangjuga malas sehingga untuk doa terbaik bagi calon buah hati, kita harus tetap bekerja seperti biasanya namun tidak boleh diforsir terlalu berat, sewajarnya saja.


MENDIAGNOSA KEHAMILAN

Mendiagnosa Kehamilan

            Menentukan kehamilan yang sudah lanjut memang tidak sukar, tetapi menentukan kehamilan awal seringkali tidak mudah, terutama bila pasien baru mengeluh terlambat haid beberapa minggu saja. Secara klinis tanda-tanda kehamilan dapat dibagi dalam 3 kategori besar, yaitu: tanda tak pasti dan tanda kepastian hamil dan kemungkinan.


A.    Tanda Tidak Pasti (Presumtif)
Perubahan fisiologik pada ibu atau seorang perempuan yang mengindikasikan bahwa ia telah hamil.Tanda tidak pasti atau terduga hamil adalah perubahan anatomic dan fisiologik selain dari tanda-tanda presumtif yang di deteksi atau di kenali oleh pemeriksa.
Tanda-tanda tidak pasti adalah sebagai berikut:

1.      Amenorhea (Terlambat datang bulan)
Amenorhea tidak dapat dianggap sebagai tanda pasti kehamilan karena amenorrhea dapat juga terjadi pada beberapa penyakit kronik, tumor-hipofise,perubahan factor-faktor lingkungan, malnutrisi dan yang paling sering gangguan emosional terutama pada mereka yang tidak ingin hamil atauyang ingin sekali hamil (di kenal dengan hami semu).

2.      Mual dan Muntah
Merupakan gejala umum mulai dari rasa tidak enak sampai muntah yang berkepanjangan, dalam kedokteran sering dikenal morning sickness karena munculnya pada pagi hari. Mual dan muntah di perberat oleh makanan yang baunya menusuk dan juga oleh emosi penderita yang tidak stabil.

3.      Mastodinia
Adalah rasa kencang dan sakit pada payudara di sebabkan payudara membesar. Faskulariasi bertambah asinus dan duktus berpoliferasi karena pengaruh estrogen dan progesterone.

4.      Quickening
Adalah persepsi gerakan janin pertama biasanya di sadari oleh wanita pada kehamilan 18-20 minggu.

5.      Gangguan Kencing
6.      Konstipasi
Terjadi karena efek relaksasi progesterone atau dapat juga karena perubahan pola makan.
7.      Perubahan berat badan
8.      Perubahan warna kulit
9.      Perubahan payudara
10.  Mengidam (ingin makanan khusus)
Sering terjadi pada bulan-bulan pertama. Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu, terutama pada trimester pertama. Akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
11.  Pingsan
12.  Lelah
Disebabkan oleh menurunnya basal metabolic rate (BMR) dalam trimester pertama kehamilan.
13.  Varises
14.  Konstipasi atau obstipasi
Karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormone steroid.
15.  Epulis
Epulis adalah suatu hipertrofi papilla gingivae. Hal ini seringterjadi pada triwulan pertama.

B.     Tanda-tanda Kemungkinan Kehamilan (Dugaan Hamil)
1.      Perubahan pada uterus
2.      Tanda piskacek’s
3.      Suhu basal
4.      Perubahan-perubahan pada serviks
a.       Tanda hegar
b.      Tanda goodell’s
c.       Tanda chadwick
d.      Tanda Mc Donald
5.      Pembesaran abdomen
6.      Kontraksi uterus
7.      Pemeriksaan test biologis kehamilan

C.    Tanda Pasti Kehamilan
Data atau kondisi yang mengindikasikan adanya buah kehamilan atau bayi yang diketahui melalui pemeriksaan dan di rekam oleh pemeriksa (misalnya denyut jantung janin, gambaran sonogram janin, dan gerak janin).
            Indikator pasti hamil adalah penemuan-penemuan keberadaan janin secara jelas dan hal ini tidak dapat di jelaskan dengan kondisi kesehatan yang lain.
1.      Denyut jantung janin (DJJ)
Dapat didengar dengan menggunakan laenec pada minggu 17-18. Dengan stetoskope ultrasonic (Doppler), DJJ dapat di dengarkan lebih awal lagi, sekitar minggu ke-12. Melakukan auskultasi pada janin bisa juga mengidentifikasi bunyi-bunyi yang lain, seperti bising tali pusat, bising uterus dan nadi ibu.
2.      Gerakan janin dalam rahim
3.      Tanda Braxton-hiks

D.    Diagnosis Banding Kehamilan
Suatu kehamilan kadangkala harus dibedakan dengan keadaan atau penyakit yang dalam pemeriksaan meragukan:
1.      Hamil palsu (pseudocyesis=kehamilan spuria)
2.      Mioma uteri
3.      Kista ovarii
4.      Kandung kemih penuh dan terjadi retensi urin
5.      Hematometra

E.     Pemeriksaan Diagnostik Kehamilan
Untuk menentukan diagnostic kehamilan maka, dilakukan pemeriksa janin:
1.      Riwayat kehamilan
Komponen riwayat umum antepartum:
a.       Data umum
1.      Riwayat perawatan medis dan perawatan primer masa lalu
2.      Riwayat keluarga
3.      Riwayat menstruasi
4.      Riwayat genestis
5.      Riwayat obstetric
6.      Riwayat ginekologik
7.      Riwayat seksual
8.      Riwayat kontrasepsi

b.      Pemeriksaan fisik
1.      Pemeriksaan fisik umum
a.       Kesan umum: kompos metis, tampak sakit.
b.      Pemeriksaan (tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu, dan berat badan).
2.      Pemeriksaan obstetric
a.       Inspeksi: tinggi fundus uteri, keadaan dinding abdomen, gerak janin yang tampak.
b.      Palpasi: menurut Knebel, menurut Leopold, menurun Buddin, menurut Ahfeld. 
c.       Pekusi.
d.      Auskultasi: bising usus, denyut jantung janin, gerak janin intrauterine, dan hal lain yang terdengar.
e.       Pemeriksaan dalam

c.    Pemeriksaan panggul
Lakukan penelitian akomodasi panggul bila usia kehamilan 36 minggu karena jaringan dalam rongga panggul lebih lunak sehingga tidak menimbulkan rasa sakit, dengan cara berikut:
1.      Masukkan telunjuk dan jari tengah ke dalam liang vagina.
2.      Arahkan ujung kedua jari ke promontorium, coba untuk merabanya.
3.      Bila teraba, tentukan panjang konjugata diagonalis.
4.      Dengan ujung jari menelusuri linea inomata kiri dan kanan, sejauh mungkin, tentukan bagian yang teraba.
5.      Raba lengkungan sokrumdan tentukan apakah spina iskiadika kiri dan kanan menonjol ke kanan.
6.      Raba dinding pelviks, apakah lurus atau konvergen ke bawah dan tentukan panjang distansia interspinarum.
7.      Arahkan bagian palmar jari-jari tangan ke dalam simfisis dan tentukan besar sudut yang di bentuk antara os pubis kiri dan kanan.

d.   Uji Laboratorium dan Studi terkait
Ada beberapa uji studi terkait sebagai berikut:
1.      Rontgenografi
2.      Ultrasonografi (USG)
3.      Fetal Electro Cardio Grafi (ECG)
4.      Test Laboratorium

Daftar Pustaka
Suryati Romauli,2011,Asuhan Kebidanan 1,Yogyakarta:Nuha Medika


Senin, 01 Mei 2017

KONSEPSI
            Konsepsi didefinisikan sebagai pertemuan antara sperma dan sel telur yang merupakan tanda awal dari kehamilan. Perisitwa ini merupakan rangkaian kejadian yang meliputi pembentukan gamet (telur dan sperma), ovulasi (pelepasan sel telur), penggabungan gamet dan implantansi embrio di dalam uterus.
1.      Ovum
Merupakan sel tersebar pada badan manusia. Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Ada 2 lapisan pelindung yang mengelilingi ovum. Lapisan pertama berupa membrane tebal tidak berbentuk yang disebut dengan zonapelucida. Lingkaran luar disebut dengan korona radiate, terdiri dari selsel oval yang di persatukan oleh asam hialuronat. Masa subur ovum selama 24 jam setelah ovulasi.
Ovum biasanya di buahi dalam waktu 12 jam setelah ovulasi dan akan mati dalam 12 jam bila tidak segera di buahi.

2.      Sperma
Spermatozoa terdiri 3 bagian yaitu:
a.       Kaput (kepala) yang mengandung bahan nucleus.
b.      Ekor berguna untuk bergerak.
c.       Bagian silindrik, menghubungkan kepala dan ekor.
Spermatozoa dapat mencapai ampula, kira-kira 1 jam setelah coitus. Ampula tuba merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Hanya beberapa ratus sperma yang bisa mencapai tempat ini. Sebagian akan mati karena keasaman dari vagina, dan sebagian juga mati saat ada dalam perjalanan.
Dalam saluran reproduksi wanita spermatozoa mengalami kapasitasi sebelum ia mampu membuahi ovum. Kapasitasi terjadi da;am rongga uterus dan tuba yaitu berupa pelepasan lapisan pelindung di sekitar akrosom. Setelah itu terjadilah reaksi akrosomik yaitu pembentukan lobang-lobang kecil pada akrosom tempat di lepaskannya enzim-enzim yang dapat melisiskan corona radiate dan zona pelucida. Terdapat enzim CPE (Corona Penetrating Enzyme) yang mencerna korona radiate dan bialuronidase yang mencerna zona pelusida.

3.      Fertilisasi
Merupakan terjadinya pertemuan antara sel sperma dan sel telur di ampula tuba.
Hasil Fertilisasi:
a.       Kembalinya sel dengan jumlah kromosom diploid (2n) pada manusia dengan jumlah diploid adalah 46.
b.      Penurunan/pewarisan sifat-sifat spesies.

4.      Implantansi / Nidasi
Merupakan tertanamnya sel telur yang telah di buahi ke dalam endometrium. Sel telur yang telah di buahi akan segera membelah diri membentuk bola padat terdiri atas sel-sel anak yang lebih kecil disebut blostomer. Pada hari ke-3, bola tersebut terdiri dari 16 sel blastomer dan disebut morula. Pada hari ke-14 di dalam bola tersebut mulai terbentuk rongga, bangunan ini disebut dengan blastula.
Dua struktur penting di dalam blastula, yaitu:
a.       Lapisan luar yang di sebut trofoblas yang akan menjadi plasenta.
b.      Embrioblas yang kelak akan menjadi janin.
Pada hari ke-4 blastula masuk ke dalam endometrium dan pada hari ke-6 menempel pada endometrium. Pada hari ke-10 seluruh blastula sudah terbenam dalam endometrium dan dengan demikian  Nidasi sudah selesai.
Nidasi terjadi karena troboblast mempunyai daya untuk mengahncurkan sel-sel endometrium. Hancuran endometrium di pegunakan sebagai bahan makanan oleh telur. Tempat nidasi biasanya pada dinding depan dan dinding belakang di daerah fundus uteri.

Daftar Pustaka:
Suryati Romauli,2011,Asuhan Kebidanan 1,Yogyakarta:Nuha Medika


Keputihan Pada Ibu Hamil
Pada saat hamil, biasanya wanita seringkali mengalami banyak perubahan, salah satu yang paling mencolok adalah keluarnya lendir dari vagina atau biasa disebut keputihan. Namun, Anda jangan khawatir karena keputihan pada saat kehamilan adalah hal yang normal terjadi. Keputihan saat hamil biasanya terjadi karena adanya pengaruh hormon yang diproduksi selama kehamilan, yakni hormon estrogen. Namun, Anda harus waspada karena perubahan hormonal ini juga dapat mengubah keseimbangan keasaman vagina, sehingga menyebabkan munculnya jamur yang mencetus iritasi. Untuk itu, ada baiknya jika Anda mewaspadai keputihan pada ibu hamil karena bisa saja menimbulkan risiko yang negatif pada kehamilan dan janin

Cara tepat untuk mewaspadai keputihan pada ibu hamil adalah dengan menggali pengetahuan tentang keputihan dan juga ciri-cirinya. Tahukah Anda, bahwa keputihan ada dua macam, yakni keputihan normal dan abnormal. Keputihan bisa dikatakan normal apabila bertekstur encer, berwarna putih agak bening campur putih seperti susu, tidak menyebabkan gatal, serta tidak berbau busuk. Sedangkan keputihan yang bisa dikatakan tidak normal dan perlu diwaspadai adalah yang lebih kental dan lengket, lendir berwarna kehijauan atau kekuningan, bahkan sampai kemerahan atau kecokelatan, berbau tidak enak dan menyengat, menimbulkan kemerahan dan gatal di daerah vagina.
Setelah mengetahui ciri-ciri keputihan di atas, tentunya Anda akan lebih mudah mewaspadai keputihan pada ibu hamil. Namun, tahukah Anda apa yang menyebabkan keputihan menjadi berbahaya bagi kehamilan dan janin? Keputihan bisa mengganggu kehamilan dan janin karena adanya infeksi penyakit pada vagina. Namun sayang, minimnya pengetahuan para wanita membuat mereka kurang mewaspadai keputihan pada saat hamil, padahal keputihan tersebut bisa mengganggu proses kehamilan, misalnya menyebabkan bayi lahir prematur, kontraksi, hingga pecah ketuban dini. Selain itu, keputihan yang tidak teratasi dengan baik saat hamil dapat menular pada bayi saat persalinan dan dapat menular kembali kepada ibu saat menyusui sehingga terjadi mastitis (peradangan puting susu dan payudara).

Untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat keputihan, maka penting bagi para ibu hamil untuk memperhatikan perubahan cairan yang keluar dari vagina tersebut dan rutin konsultasi ke dokter kandungan untuk memastikan kesehatan ibu dan janin. Dan satu lagi, ibu hamil jangan segan-segan untuk menceritakan keluhan yang dialami selama kehamilan agar dokter bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut apabila terjadi sesuatu yang mengancam kehamilan dan janin.

Sumber.
http://artikeltentangkesehatan.com/waspadai-keputihan-pada-ibu-hamil.html


Minggu, 30 April 2017

kebutuhan cairan tubuh

PRINSIP KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
A.       Kebutuhan Cairan Tubuh
Kebutuhan cairan merupakan kebutuhan fisiologis yang digunakan untuk alat transportasi zat nutrisi, elektrolit dan sisa metabolisme, sebagai komponen pembentukan sel, plasma, darah, dan komponen tubuh lainnya, sebagai pengatur suhu tubuh dan seluler (Hidayat, 2015).
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh  (Maryunani, 2015)
Presentase cairan tubuh bervariasi bergantung pada faktor usia, lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin. Jika lemak tubuh sedikit, maka cairan dalam tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibandingkan dengan pria karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak dibandingkan pada pria (Hidayat, 2015).





Tabel 1.1 Kebutuhan Air Berdasarkan Umur dan Berat Badan
Umur
Kebutuhan Air
Jumlah Air dalam 24 jam                  ml/kg Berat Badan
3 hari
250-300
80-100
1 tahun
1.150-1.300
120-135
2 tahun
1.350-1.500
115-125
4 tahun
1.600-1.800
100-110
10 tahun
2.000-2.500
70-85
14 tahun
2.200-2.700
50-60
18 tahun
2.200-2.700
40-60
Dewasa
2.400-2.600
20-30
   (Sumber : Behrman dkk,1996)
B.       Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Pengaturan cairan
Proses pengaturan cairan di pengaruhi oleh dua faktor yakni :
1.    Tekanan cairan
Pada proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan.
2.    Membran semipermiabel, merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2010 ) pengaturan keseimbangan cairan antara lain :



1.        Rasa dahaga
Mekanisme rasa dahaga :
a)        Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya menimbulkan produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipotalamus untuk melepaskan substrat neural yang bertanggung jawab terhadap sensasi haus.
b)        Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi peningkatan tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa dahaga.
2.        Anti Diuretik hormon (ADH)
ADH dibentuk di hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis dari hipofisis. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini meningkatkan reabsorbsi air pada dukus koligentes, dengan demikian dapat menghemat air.
3.        Aldosteron
Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi natrium. Pelepasan aldosteron dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium, natrium, serum dan sistem angiotensin renin dan sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.

4.        Prostaglandin
Prostaglandin adalah asam lemak alami yang terdapat dalam banyak jaringan dan berfungsi dalam merespons radang, pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus,dan mobilitas gastrointetstinal. Dalam ginjal, prostaglandin berperan mengatur sirkulasi ginjal, respon natrium, dan efek ginjal pada ADH.
5.        Glukokortirkoid
Meningkatkan responsi natrium dan air, sehingga volume darah naik dan terjadi retensi natrium. Perubahan kadar glukokortikoid menyebabkan perubahan pada keseimbangan volume darah.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemenuhan cairan adalah sebagai berikut:
a.    Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan, dan berat badan.
b.    Temperatur
Lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.
c.    Diet
Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraseluler.
d.   Stres
Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH (Anti-diuretik hormon) dan menurunkan produksi urine.
e.    Sakit
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan.
C.       Jenis Cairan
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2010) jenis cairan terdiri dari:
1.    Cairan zat gizi atau nutrien
Cairan zat gizi (nutrien) Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrien dapat diberikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200- 1500 kalori perliter. Cairan nutrien terdiri atas : karbohidrat dan air (dekstrosa), asam amino (amigen, aminosol, travamin), lemak (lipomul, lyposim).

2.      Blood Volume Expanders ( )
Jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma. Misalkan pada pasien dengan perdarahan hebat. Jenisnya antara lain human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda.
D.       Gangguan dalam Pemenuhan Cairan Tubuh
Menurut Maryunani (2015) masalah keseimbangan cairan terdiri dari dua bagian yaitu:
1.        Hipovolemik (Dehidrasi)
Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES), dan dapat terjadi karena kehilangan cairan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme kompensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon ADH dan aldosteron. Hipovolemik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.
Gejala : pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan mental, konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah, HR meningkat, suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah kering dan kasar, mukosa mulut kering. Tanda-tanda penurunan berat badan akut, mata cekung, pengosongan vena jugularis. Pada bayi dan anak-anak adanya penurunan jumlah air mata. Pada pasien syok tampak pucat, denyut jantung cepat dan halus, hipotensi, dan oliguria (produksi urine sedikit).
2.        Hipervolemik (Overhidrasi)
Hipervolemik adalah penambahan/kelebihan volume CES, dapat terjadi pada saat stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air, fungsi ginjal abnormal dengan penurunan ekskresi natrium dan air, kelebihan pemberian cairan, dan perpindahan cairan dari interstisial ke plasma.
Gejala : yang mungkin terjadi adalah sesak napas, peningkatan dan penurunan tekanan darah, nadi kuat, asites, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher (tekanan vena jugularis), dan irama gallop (irama jantung).
E.       Cara Menghitung Tetesan Infus.
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2010) terdapat cara perhitungan untuk menentukan tetesan cairan infus :
1.      Dewasa  
Rumus :
Tetesan Per Menit =  Jumlah cairan yang masuk
             lamanya infus (jam) x 3 menit
                    atau
Tetes Per Menit = Kebutuhan cairan x faktor tetesan
                                lamanya infus (jam) x 60 menit.

 
 





Keterangan : Faktor tetesan infus terdiri dari dua :
Makro (Dewasa) = 20 tetes/menit dan mikro (Anak) = 60 tetes/menit.
Contoh :
Seorang pasien dewasa datang ke IGD, memerlukan 1500 ml dalam 8 jam. Hitunglah jumlah tetesan infus per menit !
Jawab :
Diketahui :
Faktor tetes (makro) = 20 tetes
Kebutuhan Cairan = 1500 ml
Lama infus = 8 jam
Rumus :
Tetes per menit = Kebutuhan cairan x faktor tetesan
                               Lamanya infus (jam) x 60 detik
                          =  1500 ml x 20 tetes
                             8 jam x 60 menit
                         =  30000/480 = 62,5
   =  63 tetes/menit


2.    Anak
Rumus :
Tetesan Per Menit (Mikro) = Jumlah cairan yang masuk x faktor tetes
                                                   Lamanya Infus (Jam) x 60 detik
 
                                                                                                                 


Contoh :
       Pasien anak datang di rumah sakit, memerlukan cairan sebanyak 1000 ml dalam 8 jam. Hitunglah jumlah tetesan per menit.
Jawab :
Diketahui:
Kebutuhan cairan : 1000 ml
Lama infus : 8 jam
Faktor tetes (mikro) : 60 tetes
Rumus :
Tetes per menit  = Jumlah cairan x Faktor tetes
                              Lama pemberian x 60 detik
                           = 1000 ml x 60 tetes
                              8 jam x 60 detik
                          =  60000 
                              480
                          = 125 tetes/ menit

ASAM DAN BASA
A.    Pengertian Asam Basa
Asam dan Basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan sifat asam Basa, larutan dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu bersifat asam, bersifat basa, dan bersifat netral. Asam dan Basa memiliki sifat-sifat yang berbeda, sehingga dapat kita bisa menentukan sifat suatu larutan. Untuk menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa, ada beberapa cara. Yang pertama menggunakan indikator warna, yang akan menunjukkan sifat suatu larutan dengan perubahan warna yang terjadi. Misalnya Lakmus, akan berwarna merah dalam larutan yang bersifat asam dan akan berwarna biru dalam larutan yang bersifat basa. Sifat asam basa suatu larutan juga dapat ditentukan dengan mengukur pH-nya. pHmerupakan suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam memiliki pH kurang dari 7, larutan basa memiliki pH lebih dari 7, sedangkan larutan netral memiliki pH=7. pH suatu larutan dapat ditentukan dengan indikator pH atau dengan pH meter. Dengan penjelasan tersebut di atas penyusun ingin menjelaskan tentang keseimbangan asam basa setra berbagai macam faktor atau hal - hal yang berkaitan dengan keseimbangan asam basa. Serta menjelaskan bagaimana asuhan keperawatan yang di berikan pada pasien dengan gangguan keseimbangan asam dan basa.( Mubarok,Chayatin,2008)



B.     Keseimbangan Asam Basa
Derajat keasaman (pH) darah manusia normalnya berkisar antara 7.35 hingga 7.45. Tubuh manusia mampu mempertahan keseimbangan asam dan basa agar proses metabolisme dan fungsi organ dapat berjalan optimal.
Keseimbangan asam basa dalam tubuh manusia diatur oleh dua sistem organ yakni paru dan ginjal. Paru berperan dalam pelepasan (eksresi CO2) dan ginjal berperan dalam pelepasan asam (Mubarok,Chayatin,2008). Beberapa prinsip yang perlu kita ketahui terlebih dahulu adalah :
  1. Istilah asidosis mengacu pada kondisi pH < 7.35 sedangkan alkalosis bila pH > 7.45
  2. CO2 (karbondioksida) adalah gas dalam darah yang berperan sebagai komponen asam. CO2 juga merupakan komponen respiratorik. Nilai normalnya adalah 40 mmHg.
  3. HCO3 (bikarbonat) berperan sebagai komponen basa dan disebut juga sebagai komponen metabolik. Nilai normalnya adalah 24 mEq/L.
  4. Asidosis berarti terjadi peningkatan jumlah komponen asam atau berkurangnya jumlah komponen basa.
  5. Alkalosis berarti terjadi peningkatan jumlah komponen basa atau berkurangnya jumlah komponen asam



Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain :
a.       Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b.      Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
c.       Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
d.      Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah
e.       Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Misalnya : Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL, Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
1)      Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.
2)      Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
3)      Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.


C.    Komposisi Asam Basa
Rentang nilai normal dan interpretasi dari tiap komponen:
1.      pH
Rentang nilai normal               : 7,35 – 7,45
Asidosis                                   : <7,35
Alkalosis                                 : >7,45
2.      PaO2
Rentang nilai normal   : 80 – 100 mmHg
Hipoksemia ringan      : 70 – 80 mmHg
Hipoksemia sedang     : 60 – 70 mmHg
Hipoksemia  berat       : <60 mmHg
3.      SaO2
Rentang nilai normal   : 93% – 98%
Bila nilai SaO2 >80% sudah dapat dipastikan bahwa darah diambil dari arteri, kecuali pada gagal napas.
4.      PaCO2
Rentang nilai normal   : 35 – 45 mmHg
Asidosis respiratorik   : >45 mmHg (pH turun)
Alkalosis respiratorik  : <35 mmHg (pH naik)
5.      HCO3
Rentang nilai normal   : 22 – 26 mEq/L
Asidosis metabolik      : <22 mEq/L (pH turun)
Alkalosis metabolik     : >26 mEq/L (pH naik)

6.      BE
Rentang nilai normal   : -2 s/d +2 mEq/L
Nilai – (negative)                    : asidosis
Nilai + (positif)                       : alkalosis
BE dilihat saat pH normal.
(Mubarok,Chayatin,2008)
D.    Pengaturan Asam Basa
Tubuh menggunakan tiga mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan    asam-basa darah (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009) yaitu sebagai berikut:
1.      Penyangga pH (sistem bufer)
Bufer menetralisasi kelebihan ion hidrogen, bersifat temporer, dan tidak melakukan eliminasi. Fungsi utama sistem bufer adalah mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organik pada cairan ekstraseluler. Sebagai bufer, sistem ini memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut.
a.       Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan karena peningkatan CO2.
b.      Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendali sistem pernapasan bekerja normal.
c.       Kemampuan menyelenggarakan sistem bufer bergantung pada tersedianya ion bikarbonat. Ada empat sistem bufer yaitu:
1)      Bufer bikarbonat merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh nonbikarbonat.
2)      Bufer protein merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel.
3)      Bufer hemoglobin merupakan sistem dapar didalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat, dan
4)      Bufer fosfat merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.
  Sistem kimia ini hanya dapat mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Untuk jangka panjang, kelebihan asam atau basa dikeluarkan melalui ginjal dan paru-paru sedangkan untuk jangka pendek, tubuh dilindungi dari perubahan pH dengan sistem bufer. Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbon dioksida. Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbon dioksida dan lebih sedikit bikarbonat (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009).
2.      Sistem ginjal
         Untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, ginjal harus mengeluarkan anion asam nonvolatile dan mengganti HCO3 ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi ion hidrogen dan ion bikarbonat. Pada mekanisme pengaturan oleh ginjal ini berperan tiga sistem bufer asam karbonat.pada mekanisme pengaturan oleh ginjal ini berperan tiga sistem tiga sistem bufer asam karbonat, bufer fosfat dan pembentukan amonia. Ion hidrogen, CO2 dan NH3 diekskresi ke dalam lumen tubulus dengan bantuan energi yang dihasilkan oleh mekanisme pompa natrium di basolateral tubulus. Pada proses tersebut, asam karbonat dan natrium dilepas kembali ke sirkulasi untuk dapat berfungsi kembali. Tubulus proksimal adalah tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan pengeluaran asam. Ion hidrogen sangat reaktif dan mudah bergabung (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009).
       Dengan ion bermuatan negatif pada kosentrasi yang sangat rendah. Pada kadar yang sangat rendah pum, ion hidrogen mempunyai efek yang besar pada sistem biologi. Ion hidrogen berinteraksi dengan berbagai molekul biologis sehingga dapat mempengaruhi struktur protein, fungsi enzim, dan eksitabitas membran. Ion hidrogen sangat penting pada fungsi normal tubuh misalnya sebagai pompa proton mitokondria pada proses fosforilasi oksidatif yang mengasilkan ATP. Produksi ion hidrogen sangat banyak karena dihasilkan terus menerus di dalam tubuh. Prolehan dan pengeluaran ion hidrogen sangat bervariasi bergantung pada diet, aktivitas, dan status kesehatan. Ion hidrogen di dalam tubuh berasal dari makanan, minuman, dan prooses metabolisme tubuh. Di dalam tubuh ion hidrogen terbentuk sebagai hasil metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, glikolisis anaerobik atau ketogenesis. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagai besar dalam bentuk amonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk mengubah jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009)..



3.      Sistem paru
          Paru-paru membantu mengatur leseimbangan asam-basa denga mengeluarkan karbon dioksida. Karbon dioksida secara kuat menstimulasi pusat pernafasan. Ketika karbon dioksida dan asam bikarbonat dalam darah meningkat pusat pernapasan distimulasi sehingga menjadi meningkat. Karbon dioksida dikeluarkan dan asam karbonat menjadi turun. Apabila bikarbonat berlebih maka jumlah pernapasan akan diturunkan. Pengaturan pernapasan dan ginjal saling bekerja sama dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa. Di paru-paru karbon dioksida bereaksi dengan air membentuk asam karbonat, dan kemudian asam karbonat akan dipecah di ginjal menjadi hidrogen dan bikarbonat (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009).
          Peran sistem respirasi dalam keseimbangan asam basa adalah mempertahankan agar POC2 selalu konstan walaupun terdapat perubahan kadar CO2 akibat proses metabolisme tubuh. Keseimbangan asam basa respirasi berkantung pada keseimbangan produksi dan ekskresi CO2 bergantung pada fungsi paru. Kelainan ventilasi perfusi sehingga akan terjadi ketidakseimbangan, ini akhirnya menyebabkan hipoksia maupun retensi CO2 sengga terjadi gangguan keseimbangan asam basa (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009).
          Karbon dioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa karbon dioksida ke paru-paru. Di paru-paru karbon dioksida tersebut dikeluarkan (diembuskan). Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah karbon dioksida yang diembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernapasan. Jika pernapasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa. Jika pernapasan menurun, kadar karbon dioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam. Dengan mengatur kecepatan Ph darah menit demi menit. Nilai pH dapat dilihat dari darah arterial dengan rentang normal 7,33-7,45. Adanya kelainan pada suatu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, dapat menyebabkan salah satu dari dua kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Jika kadar pH kurang dari 7,35 disebut asidosis sedangkan jika lebih dari 7,45 disebut alkalosis (Uliyah, Musrifatul dkk. 2009).
E.     Jenis Cairan Asam Basa
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi osidosis. Keadaan osidosis dapat di sebabkan karena henti jantung dan koma diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium (sodium laktat) dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan garam dari asam lemah yang dapat mengambil ion H+ dari cairan, sehingga mengurangi keasaman (asidosis). Ion H+ diperoleh dari asam karbonat (H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3 (bikarbonat) dan H+. selain system pernapasan, ginjal juga berperan untuk  mempertahankan keseimbangan asam basa yang sangat kompleks. Ginjal mengeluarkan ion hydrogen dan membentuk ion bikarbonat sehingga pH darah normal. Jika pH plasma turun dan menjadi lebih asam, ion hidrogen dikeluarkan dan bikarbonat dibentuk kembali (Maryunani, Anik. (2015).
F.     Gangguam Dalam Pemenuhan Asam Basa
1.      Asidosis Respiratorik
a.       Pengertian
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam (Maryunani, Anik. (2015)
b.       Penyebab
Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:
1.      Emfisema
2.      Bronkitis kronis
3.      Pneumonia berat
4.      Edema pulmoner
5.      Asma.
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan (Maryunani, Anik. (2015)
c.       Gejala
            Gejala pertama berupa sakit kepala dan rasa mengantuk. Jika keadaannya memburuk, rasa mengantuk akan berlanjut menjadi stupor (penurunan kesadaran) dan koma. Stupor dan koma dapat terjadi dalam beberapa saat jika pernafasan terhenti atau jika pernafasan sangat terganggu; atau setelah berjam-jam jika pernafasan tidak terlalu terganggu. Ginjal berusaha untuk mengkompensasi asidosis dengan menahan bikarbonat, namun proses ini memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari (Maryunani, Anik. (2015)
d.      Diagnosa
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan pengukuran karbondioksida dari darah arteri (Maryunani, Anik. (2015)


e.       Pengobatan
Pengobatan asidosis respiratorik bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari paru-paru. Obat-obatan untuk memperbaiki pernafasan bisa diberikan kepada penderita penyakit paru-paru seperti asma dan emfisema.Pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan yang berat, mungkin   perlu diberikan pernafasan buatan dengan bantuan ventilator mekanik (Maryunani, Anik. (2015)
2.      Asidosis Metabolik
a.       Pengertian
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma (Mubarok,Chayatin,2008)

b.      Penyebab
 Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama adalah:
1.      .Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.
2.      Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.
3.      Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.Tubuh dapat
4.      menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula.
5.      Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam
6.      Jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normalpun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis, yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam (Mubarok,Chayatin,2008)
c.       Gejala
Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak memperhatikan hal ini. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian (Mubarok,Chayatin,2008)
d.      Diagnosa
Diagnosis asidosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH darah yang diambil dari darah arteri (arteri radialis di pergelangan tangan). Darah arteri digunakan sebagai contoh karena darah vena tidak akurat untuk mengukur pH darah.Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran kadar karbon dioksida dan bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali. Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan air kemih secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih (Mubarok, Chayatin,2008)
e.       Pengobatan
Pengobatan asidosis metabolik tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang bahan racun tersebut dari dalam darah. Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan yang berat. Asidosis metabolik juga bisa diobati secara langsung. Bila terjadi asidosis ringan, yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya. Bila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena; tetapi bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan (Mubarok, Chayatin,2008)


3.      Alkalosis Respiratorik
a.       Pengertian
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah (Mubarok, Chayatin,2008)
b.      Penyebab
Pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:
1.      rasa nyeri
2.      sirosis hati
3.      kadar oksigen darah yang rendah
4.      demam
5.      overdosis aspirin.
(Mubarok, Chayatin,2008)
c.        Gejala
            Alkalosis respiratorik dapat membuat penderita merasa cemas dan dapat menyebabkan rasa gatal disekitar bibir dan wajah. Jika keadaannya makin memburuk, bisa terjadi kejang otot dan penurunan kesadaran (Mubarok, Chayatin,2008)

d.      Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran kadar karbondioksida dalam darah arteri pH darah juga sering meningkat (Mubarok, Chayatin,2008)
e.       Pengobatan
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya (Mubarok, Chayatin,2008).
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik (Mubarok, Chayatin,2008).

4.      Alkalosis Metabolik
a.        Pengertian
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat (Mubarok, Chayatin,2008).
b.      Penyebab
Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut), (Mubarok, Chayatin,2008).
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.Penyebab utama akalosis metabolik:
a.       Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
b.      Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
c.       Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).
c.       Gejala
            Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut dan kejang otot; atau tanpa gejala sama sekali. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot yang berkepanjangan (tetani) (Mubarok, Chayatin,2008).
d.      Diagnosa
Dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa (Mubarok, Chayatin,2008).
e.       Pengobatan
Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium) . Pada kasus yang berat, diberikan amonium klorida secara intravena (Mubarok, Chayatin,2008).