PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR PADA
MANUSIA (OKSIGENASI)
Kebutuhan dasar manusia merupakan
unsur-unsur yang di butuhkan oleh manusia dalam mempertahanankan keseimbangan
fisiologi maupun psikologi. Salah satunya adalah kebutuhan oksigen. Oksigen
adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen
ini diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas. (Wartonah
Tarwanto, 2006)
Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling
vital dalam kehidupan manusia, dalam tubuh, oksigen berperan penting dalam
proses metabolisme sel tubuh. Kekurangan oksigan bisa menyebabkan hal yangat
berarti bagi tubuh, salah satunya adalah kematian. Karenanya, berbagai upaya perlu
dilakukan untuk mejamin pemenuhan kebutuhan oksigen tersebut, agar terpenuhi
dengan baik. Dalam pelaksanannya pemenuhan kebutuhan oksigen merupakan tugas
perawat tersendiri, oleh karena itu setiap perawat harus paham dengan
manisfestasi tingkat pemenuhan oksigen pada klienya serta mampu mengatasi
berbagai masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan tesebut. Oleh
karena itu, kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat
vital bagi tubuh.
Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak
terlepas dari kondisi sistem pernapasan secara fungsional. Bila ada gangguan
pada salah satu organ sistem respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami
gangguan. Sering kali individu tidak menyadari terhadap pentingnya oksigen.
Proses pernapasan dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Banyak
kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernapasan. Pada kondisi ini,
individu merasakan pentingnya oksigen.
Sistem
tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi
Oksigenasi
adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O2). Sistem pernapasan berperan dalam pemenuhan
kebutuhan oksigenasi sistem terdiri atas saluran pernapasan bagian atas, dan
saluran pernapasan bagian bawah.
A. Saluran Pernapasan Bagian Atas
Gambar,
saluran pernapasan bagian atas
- Hidung
Proses oksigenasi diawali dengan masuknya
udara melalui hidung. Pada hidung terdapat nares anterior (saluran di dalam
lubang hidung) yang mengandung kelenjar sebaseus dan ditutupi rambut yang
kasar. bagian ini bermuara ke rongga hidung, sebagai bagian hidung lainnya,
yang dilapisi oleh selaput lendir dan mengandung pembuluh darah. Udara yang
masuk melalui hidung akan disaring oleh rarmbut yang ada di dalam vestibulum
(bagian rongga hidung) kemudian dihangatkan dan dilembabkan.
2.
Faring
Faring
merupakan pipa yang memiliki otot, memanjang dari dasar tengkorak sampai dengan
esofagus. yang terletak di belakang hidung (nasofaring) di
belakang mulut (orofaring) dan dibelakang
laring (laringofaring).
3.
Laring (tenggorokan)
Laring merupakan saluran pernapasan
setelah faring yang terdiri atas bagian dari tulang rawan yang diikat bersama
ligament dan membran yang terdiri atas dua lamina yang bersambung di garis
tengah.
Gambar,
laring pada manusia
1.
Epiglotis
Epiglotis merupakan katup tulang rawan
yang bertugas membantu menutup laring saat proses menelan.
gambar
epiglottis
2. Saluran Pernapasan Bagian Bawah
Saluran pernapasan bagian bawah terdiri
atas trachea, bronchus, dan bronkhiolus, dan paru-paru. Saluran ini berfungsi
mengalirkan udara dan memproduksi surfaktan.
Gambar,
saluran pernapasan bagian bawah
1. Trakea
Trakea (batang tenggorok) merupakan
kelanjutan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima.
Trakea memiliki panjang ± 9 cm dan tersusun atas 16-20 lingkaran tak lengkap
yang berupa cincin. Trakea dilapisi oleh selaput lendir dan epithelium bersilia
yang dapat mengeluarkan debu atau benda asing.
1. Bronkus
Bronkus merupakan kelanjutan dari trakea
yang bercabang menjadi bronkus kanan dan kiri. Pada bagian kanan lebih pendek
dan lebar daripada bagian kiri. Bronkus kanan memiliki tiga lobus atas, tengah,
dan bawah. Sedangkan Bronkus kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan
dari lobus atas dan bawah.
1. Bronkhiolus
Bronkiolus merupakan saluran percabangan
setelah bronkus, yaitu anak cabang dari batang tenggorok yang terdapat dalam
rongga tenggorokan kita dan akan memanjang sampai ke paru-paru. Jumlah cabang
bronkiolus yang menuju paru-paru kanan dan kiri tidak sama. Bronkiolus yang
menuju paru-paru kanan mempunyai 3 cabang, sedangkan bronkiolus yang menuju
paru-paru sebelah kiri hanya bercabang 2.
Bronkiolus adalah cabang dari bronkus dan
memiliki dinding yang lebih tipis, pada ujung bronkiolus terdapat banyak sekali
gelembung-gelembung kecil yang dinamakan alveolus. fungsi dari bronkiolus
adalah sebagai media yang menghubungkan oksigen yang kita hirup agar mencapai
paru-paru.
Gambar,
alveolus
1.
Paru-paru
Paru merupakan organ utama dalam sistem
pernapasan. Paru terletak di dalam rongga torak setinggi tulang selangka sampai
dengan diafragma. Paru terdiri atas beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura
yaitu pleura parfetalis dan pleura viseralis, serta dilindungi oleh cairan
pleura yang berisi cairan surfaktan.
Paru sebagai alat pernapasan utama terdiri
dari dua bagian (paru kanan dan paru kiri) dan pada bagian tengah dari organ
tersebut terdapat organ jantung beserta pembuluh darah yang berbentuk kerucut,
dengan bagian puncak di sebut apeks. Paru memiliki jaringan yang bersifat
elastik, berpori dan memiliki fungsi sebagai tempat pertukaran gas oksigen dan
karbon dioksida.
Anatomi
paru
Paru-paru merupakan sebuah organ yang
sebagian terdiri dari gelembung-gelembung udara atau alveoli. Paru-paru dibagi
menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus, yaitu lobus
superior, lobus media, dan lobus inferior.
b. Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus, yaitu lobus
superior dan lobus inferior. (Syaifuddin, 1997).
1.
Proses Oksigenasi
Oksigenasi
adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika).
Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan
dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida,
energi, dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan
memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap akrivitas sel. (wahit iqbal
Mubarak, 2007)
Udara
masuk secara berurutan, yaitu :
Rongga hidung – faring – laring –trakea –
bronkus – bronkiolus- alveolus.
Proses Pemenuhan Oksigenisasi Dalam Tubuh Terdiri Atas
Tiga Tahapan, Yaitu :
1. Ventilasi
Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli
atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi di pengaruhi oleh beberapa hal,
yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi
tempat maka tekanan udara semakin rendah, demikian sebaliknya, semakin rendah
tempat tekanan udara semakin tinggi.
Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complienci dan recoil. Complience merupakan kemampuan paru untuk mengembang. sedangkan recoil adalah kemampuan CO2 atau kontraksi menyempitnya paru. Pusat pernapasan, yaitu medulla oblongata dan pons, dapat dipengaruhi oleh ventilasi. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complienci dan recoil. Complience merupakan kemampuan paru untuk mengembang. sedangkan recoil adalah kemampuan CO2 atau kontraksi menyempitnya paru. Pusat pernapasan, yaitu medulla oblongata dan pons, dapat dipengaruhi oleh ventilasi. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
- Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer.
- Adanya kondisi jalan napas yang baik.
- Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada
paru-paru dalam melaksanakan ekspansi atau kembang kempis.
- Difusi
5.
Merupakan pertukaran antara O2 dari
alveoli ke kapiler paru-paru dan CO2 dari kapiler ke alveoli. Proses difusi gas ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
- Luasnya permukaan paru-paru
- Tebal membran respirasi/permeabilitas (epitel
alveoli dan interstisial).
- Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
- Afinitas gas
2.
Transportasi
Transportasi gas merupakan proses
pendistribusian antara O2 kapiler
ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan
tubuh ke kapiler. Pada proses transportasi, O2 akan
berikatan dengan Hb membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%).
Sedangkan CO2 akan
berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%), larut dalam plasma
(5%), dan sebagian menjadi HCO3 berada dalam darah (65%).
Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor diantaranya :
- Kardiak
output
- Kondisi pembuluh
darah
- Latihan
(exercise )
- Hematokrit
- Eritrosit
dan kadar Hb
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi
- Saraf Otonom
Pada rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf
otonom dapat mempengaruhi kemampuan untuk dilartasi dan kontriksi. Hal ini
dapat terlihat ketika terjadi rangsangan baik oleh simpatis maupun
parasimpatisketika terdjadi rangsangan. Ujung saraf dapat mengeluarkan
neurotransmitter (simpatis mengeluarkan noradrenalin yang berpengaruh pada
bronkodilatasi, Parasimpatis mengeluarkan esetilkolin yang berpengaruh pada
bronkokonstirksi) karena pada saluran pernapasan terdapat reseptor adrenergic
dan reseptor kolinergik.
- Hormonal dan Obat
Semua hormon termasuk devirat katekolamin dapat
melebarkan saluran pernapasan. Obat yang tergolong parasimpatis dapat
melebarkan saluran napas, seperti sulfas atropine, ekstrak Belladona dan obat
yang menghambat adrenergic tipe beta (khususnya beta-2) dapat mempersempit
saluran napas (bronkokontriksi) seperti obat yang tergolong beta bloker nonselektif.
- Alergi pada saluran napas
Banyak faktor yang menimbulkan keadaan alergi antara
lain debu, bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk, makanan dan
lain-lain.
- Faktor perkembangan
Tahap perkembangan anak dapat memengaruhi jumlah
kebutuhan oksigenasi karena usia organ di dalam tubuh seiring dengan usia
perkembangan anak.
- Faktor lingkungan
Kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kebutuhan
oksigenasi, seperti faktor alergi, ketinggian dan suhu. Kondisi-kondisi
tersebut memengaruhi kemampuan adaptasi.
- Faktor perilaku
Perilaku yang di maksud diantaranya adalah perilaku
dalam mengkonsumsi makanan (status nutrisi), seperti orang obesitas dapat
mempengaruhi dalam proses pengembangan paru, kemudian perilaku aktivitas,
seperti perilaku merokok dapat menyebabkan proses penyempitan pada pembuluh
darah dan lain-lain.
Gangguan
/ Masalah Kebutuhan Oksigenasi
Ø Hipoksia
Tidak kuatnya pemenuhuan O2 seluler
akibat dari defisiensi O2 yang
didinspirasi atau meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan
oleh menurunnya hemoglobin, kerusakan gangguan ventilasi, menurunnya perfusi
jaringan seperti pada syok, berkurannya konsentrasi O2 jika
berada dipuncak gunung. Tanda tanda Hipoksia adalah kelelahan, kecemasan menurunnya
kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam sianosis,
sesak nafas.
Ø Perubahan pola pernapasan
Ø Takipnea
Takipnea adalah frekuensi pernapasan teratur namun
cepat secara tidak merata (> 24/ menit)
Ø Branipnea
Adalah frekuensi pernapasan teratur namun lambat
secara tiak normal ( kurang dari 12 /menit)
Ø Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2
dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat
disebabkan karena kecemasan, infeksi, keracunan obat-obatan, keseimbangan asam
basa seperti osidosis metabolik Tanda-tanda hiperventilasi adalah takikardi,
nafas pendek, nyeri dada, menurunnya konsentrasi, disorientasi, tinnitus.
Ø Kussmaul
Adalah pernapasan cepat secara tidak normal dan
frekuensi meningkat, misal dalam keadaan asidosis metabolik
Ø Hipoventilasi
Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk
memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya
terjadi pada keadaaan atelektasis (Kolaps Paru). Tanda-tanda dan gejalanya pada
keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi,
ketidak seimbangan elektrolit.
Ø Dispnea
Merupakan perasaan sesak dan berat saat bernafas.
Ø Ortopnea
Merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi
duduk atau berdiri dan pola ini sering di temukan pada seseorang yang mengalami
kongestik paru.
Ø Cheyne stokes
Merupakan frekuensi dan kedalaman pernapasan tidak
teratur, di tandai dengan periode apnea dan hiperventilasi yang berubah-ubah.
Ø Pernapasan paradoksial
Merupakan pernapasan dimana dinding paru-paru bergerak
berlawanan arah dari keadaan normal.
Ø Biot
Merupakan pernapasan dangkal secara tidak normal untuk
dua atau tiga napas di ikuti periode apnea yang tidak teratur.
Ø Stridor
Merupakan pernapasan bising yang terjadi karena
penyempitan pada saluran pertanyaan.
Ø Obstruksi jalan napas
Merupakan gangguan yang menimbulkan penyumbatan pada
saluran pernapasan.
Ø Pertukaran gas
Merupakan proses pengambilan gas oksigen dari
lingkungan dan pengeluaran karbon dioksida dari dalam tubuh makhluk hidup.
Bernafas merupakan salah satu ciri utama makhluk hidup. Proses pertukaran gas
oksigen dan karbon dioksida berlangsung secara difusi. Oksigen akan menuju
semua sel dalam semua jaringan melalui alat-alat pernafasan.
Tindakan
untuk mengatasi masalah kebutuhan oksigenasi
1.
Latihan napas
Latihan napas
merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara
pertukaran gas, mencegah atelektaksis, meningkatkan efisiensi batuk, dan dapat
mengurangi stress.
Prosedur Kerja :
- Cuci tangan
- Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilakukan
- Atur posisi pasien untuk duduk atau telentang
- Anjurkan pasien untuk mulai latihan dengan cara
menarik napas terlebih dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup
- Kemudian anjurkan pasien untuk menahan napas
sekitar 1-1,5 detik dan disusul dengan menghembuskan napas melalui bibir
dengan bentuk mulut seperti orang meniup
- Catat respon pada pasien yang terjadi
- Cuci tangan anda
2.
Latihan batuk efektif
Latihan batuk efektif merupakan cara melatih
pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif untuk membersihkan
jalan napas (laring, trachea, dan bronkhiolus) dari secret atau benda asing.
Prosedur Kerja :
- Cuci
tangan
- Jelaskan
pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
- Atur posisi
pasien dengan duduk di tepi tempat tidur dan membungkuk ke depan
- Anjurkan
pasien untuk menarik napas, secara pelan dan dalam, dengan menggunakan
pernapasan diafragma
- Setelah
itu minta pasien menaahan napas selama ± 2 detik
- Batukkan
pasien 2 kali dengan mulut terbuka
- Minta
pasien melakukan Tarik napas dengan ringan
- Istirahat
- Catat
respons yang terjadi pada pasien
- Cuci
tangan anda
3.
Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan
memberikan oksigen kedalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat
bantu oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu, :
melalui kanula, nasal, dan masker.
Tujuan pemberian oksigen adalah :
- Memenuhi
kebutuhan oksigen
- Mencegah
terjadinya hipoksia
- Membantu
kelancaran metabolisme
- Sebagai tindakan
pengobatan
- Mengurangi
beban kerja alat nafas dan jantung
Persiapan Alat dan Bahan :
- Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan
humidifier
- Nasal kateter, kanula, atau masker
- Vaselin,/lubrikan atau pelumas (jelly)
4. Prosedur Kerja :
- Cuci tangan
- Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilakukan
- Cek flowmeter dan humidifier
- Hidupkan tabung oksigen
- Atur posisi semifowler atau posisi yang telah
disesuaikan dengan kondisi pasien
- Berikan oksigen melalui kanula atau masker
- Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak
hidung dengan telinga, setelah itu berikan lubrikan dan masukkan
- Catat pemberian dan lakukan observasi pada pasien
- Cuci tangan anda
14. Gambar, pemberian oksigen
4.
Fisioterapi dada
Fisioterapi dada merupakan tindakan
melakukan postural drainage, clapping, dan vibrating pada pasien dengan
gangguan system pernapasan untuk meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan
membersihkan jalan napas.
Tujuan fisioterapi dada adalah :
- Meningkatkan efisiensi pola pernafasan
- Membersihkan jalan nafas
3. Persiapan Mat dan Bahan :
- Pot sputum berisi desinfektan
- Kertas tisu
- Dua balok tempat tidur (untuk postural drainage)
- Satu bantal (untuk postural drainage)
1.
Postural drainage
merupakan
tindakan dengan menempatkan pasien dalam berbagai posisi untuk mengalirkan
sekret di saluran pernafasan. Tindakan postural drainase diikuti dengan
tindakan clapping (penepukan) dan vibrating (vibrasi/getaran).
- Cuci
tangan
- Jelaskan
pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
- Miringkan
pasien kekiri (untuk membersihkan bagian paru-paru kanan)
- Miringkan
pasien kekanan (untuk membersihkan badian paru-paru kiri)
- Miringkan
pasien ke kiri dengan tubuh bagian belakang kanan disokong satu bantal
(untuk membersihkan bagian lobus tengah)
- Lakukan
postural drainage ± 10-15 menit
- Observasi
tanda vital selama prosedur
- Setelah
pelaksanaan postural drainage, dilakukan clapping, vibrating, dan suction
- Lakukan
hingga lender bersih
- Catat
respon yang terjadi pada pasien
- Cuci
tangan
Untuk posisi ini, pasien berbaring
tengkurap di tempat tidur datar atau meja. Dua bantal harus ditempatkan di
bawah pinggul.Pengasuh Perkusi dan bergetar atas bagian bawah tulang belikat,
di kedua sisi kanan dan kiri tulang belakang, menghindari perkusi langsung atau
getaran selama tulang belakang itu sendiri.
2.
Clapping (penepukan)
Clapping dilakukan dengan menepuk dada posterior dan
memberikan getaran (vibrasi) tangan pada daerah tersebut yang dilakukan pada
saat pasien ekspirasi
- Cuci tangan
- Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilaksanakan
- Atur posisi pasien sesuai dengan kodisinya
- Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat
menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk
- Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan
anjurkan untuk menampung sputum pada pot sputum
- Lakukan hingga lendir bersih
- Catat respon yang terjadi pada pasien
- Cuci tangan
- Vibrating (menggetarkan)
10. Suatu tindakan yang diberikan kepada penderita dengan
jalan latihan bernapas, menggetarkan daerah dinding dada
1.
Cuci tangan
- Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilaksanakan
- Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya
- Lakukan vibrating dengan menganjurkan pasien
untuk menarik napas dalam dan meminta pasien untuk mengularkan napas
perlahan-lahan. Untuk itu, letakkan kedua tangan diatas bagian samping
depan dari cekungan iga dan getarkan secara perlahan- lahan.hal tersebut dilakukan secara berkali-kali
hingga pasien ingin batuk dan mengeluarkan sputum
- Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan
anjurkan untuk menampung sputum di pot sputum
- Lakukan hingga lendir bersih
- Catat respon yang terjadi pada pasien
- Cuci tangan
5.
Pengisapan lendir
Pengisapan lender (suction) merupakan
tindakan perawatan yang dilakukan pada yang tidak mampu mengeluarkan
secret dan lendir secara mandiri dengan mnggunakan alat penghisap.
Tujuan pengisapan lendir :
- Membersihkan jalan nafas
- Memenuhi kebutuhan oksigen
3.
Persiapan Mat dan Bahan :
- Mat pengisap lendir dengan botol yang berisi
larutan desinfektan
- Kateter pengisap lendir
- Pinset steril
- Dua kom berisi laturan akuades/NaC1 0,9% dan
larutan desinfektan
- Kasa steril
- Kertas tisu
Prosedur Kerja :
- Cuci
tangan
- Jelaskan
pada pasien mengenai prosedur yang akan diaksanakan
- Atur
pasien dalam posisi telentang dan kepala miring kearah perawat
- Gunakan
sarung tangan
- Hubungakan
kateter penghisap dengan selang penghisap
- Hidupkan
mesin penghisap
- Lakukan
penghisapan lendir dengan memasukkna kateter pengisap ke dalam kom berisi
akuades atau NaC1 0,9% untuk mencegah trauma mukosa
- Masukkan
kateter pengisap dalam keadaan tidak mengisap
- Tarik
lendir dengan memutar kateter pengisap sekitar 3-5 detik
- Bilas
kateter dengan akuades atau NaC1 0,9%
- Lakukan
hingga lendir bersih
- Catat
respon yang terjadi
- Cuci
tangan
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar